Wahai Anak Bangsa…

               Kita merayakan satu hari spesifik di antara 365 hari lainnya. Sebuah hari kebanggaan semua rakyat Indonesia, di mana peluh keringat, tumpah darah, dan jatuhnya air mata para pahlawan dikenang. “Merdeka!” seru semua rakyat dalam kesatuan yang utuh, tak memandang usia muda ataupun tua, pendek ataupun tinggi, tak memandang ras, suku, ataupun agama, karena kita satu, dalam Indonesia. Sebuah hari yang menjadi awal bangkitnya kehidupan Indonesia. Sang proklamator dengan gagah membumbungkan kata kemerdekaan di telinga semua orang. Tertanda, tujuh belas Agustus 1945.

               Dua hari yang lalu, di kiri dan kanan, banyak bendera terpampang tinggi disokong oleh kokohnya batang bambu. “Hari merdeka,” begitu ucap semua orang. Satu hari di mana semuanya turut mencintai ibu pertiwi. Sekarang sudah tahun 2017, di mana globalisasi sudah tak terelakkan lagi. Bila dulu sewaktu kita kecil menyanyikan lagu dengan lirik: “Kiri kanan kulihat semua banyak pohon cemara”, kini tampaknya semua sudah berubah menjadi “banyak gadget” atau “banyak videotron.”. Apakah mereka salah? Tentu tidak. Persaingan bisnis yang menggiurkan saat ini adalah di bidang teknologi. Di lain bidang itu pun, apabila tidak mengikuti perkembangan, matilah mereka ditelan ganasnya arus penduniaan seperti ini. Sejujurnya keadaan selalu berulang seperti itu, seolah seperti kata orang-orang: “Sejarah berulang.”.

               Teknologi, instan, cepat, praktis. Kata-kata tersebut sangat identik dengan generasi millennial, yakni mereka yang hidup di zaman di mana teknologi sudah mulai berkembang pesat. Sejujurnya bukan hanya mereka, bahkan generasi-generasi Indonesia yang terdahulu juga sudah menikmati teknologi dalam era globalisasi di waktu yang sekarang. Tak ayal, mereka pun juga meneriakkan kata merdeka di tanggal tujuh belas Agustus silam, juga di tahun-tahun yang sebelumnya.

               Merdeka dalam teknologi.

               Beberapa tahun yang lalu, Indonesia digegerkan dengan mobil buatan sendiri. Ada pula pesawat, kapal, dan alat kemiliteran lain yang menjadi hak cipta Indonesia. Di lain hal-hal itu, masih banyak teknologi-teknologi lain yang dikembangkan oleh anak bangsa kita. Tetapi mari kita berkaca. Handphone, televisi, dan laptop kita, yang manakah yang merupakan merk Indonesia?

               Ketahuilah, Indonesia menyimpan banyak sekali potensi, dari segi sumber daya alam maupun manusianya. Dengan jumlah masyarakat Indonesia sebanyak 261,1 juta jiwa, bukan tidak mungkin lagi untuk kita menciptakan terobosan-terobosan baru di bidang teknologi. Apalagi di masa sekarang ini, yang notabene ilmu pengetahuan bisa dengan mudah didapatkan.  Semuanya ada di ujung jari Anda, selanjutnya hanya tinggal pilihan Anda: Ke manakah jari itu akan Anda arahkan? Ke sisi positif atau sisi yang negatif? Bukankah kita semua akan merasa bangga bila ada nama anak bangsa—bisa jadi itu adalah Anda kelak—yang terpampang di surat kabar dunia, meneriakkan dengan lantang bahwa ia adalah seorang luar biasa: seorang inventor, yang mampu mendobrak habis papan permainan teknologi dunia dan mampu membawanya ke era yang lebih modern?

               Kita sepatutnya beruntung bahwa Indonesia sudah mulai melek teknologi. Saya menyadari ini bahwa teknik informatika merupakan jurusan fakultas yang disegani dan tampaknya banyak menjadi favorit anak bangsa akhir-akhir ini. Di lain itu, kita juga mengenal salah satu jurusan lain yang sedang naik daun bernama DKV alias Desain Komunikasi Visual, di mana DKV memfokuskan anak-anaknya untuk jago desain grafis. Saya sangat senang bahwa teknologi dan perdesainan bahkan sudah dipakai oleh pemerintah untuk menyampaikan himbauan, informasi, dan lainnya. Saya melihat bahwa, bahkan anak-anak bangsa yang usianya masih tergolong dini, sudah banyak mengekspresikan dirinya secara bebas, memerdekakan dirinya sendiri di bidang teknologi.

               Merdeka dengan teknologi, seyogianya bukan hanya menjadi hiasan di mulut belaka. Menurut saya, merdeka dalam teknologi adalah saat di mana kita bisa menciptakan dan turut membanggakan karya anak bangsa di bidang tersebut, mendukung dan memajukan teknologi lokal. Kita bahu membahu memberikan kontribusi untuk Indonesia, yang hendaklah menjadikannya pemimpin sekaligus pengubah cara pandang masyarakat dunia sekarang terhadap teknologi. Indonesia sebagai negara konsumtif? Sudah biasa. Indonesia sebagai negara produsen? Andalah yang menentukan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s